Postingan

Menampilkan postingan dari April 1, 2012

"Saya Menjadi Manusia yang Lebih Baik karena Islam"

Sebelum mengenal Islam, Abdullah Drury hidup di tengah keluarga dengan beragam agama. Ibunya menganut aliran Saksi Yehovah, ayahnya ia sebut sebagai "mantan Katolik", seorang pamannya penganut apostolik dan beberapa anggota keluarganya memeluk agama Kristen Anglikan. Meski demikian, lelaki asal Selandia Baru itu, dibesarkan dengan atmosfir toleransi yang kental. Minat Drury pada segala hal yang berkaitan dengan Islam mulai muncul saat ia kuliah di jurusan sejarah pada era 1990-an. "Begitu kami mulai menyentuh apa saja yang ada kaitannya dengan Islam, atau agama Islam, atau sejarah Islam, apakah itu di Uni Soviet, Soviet Rusia atau atau dalam Religious Studies 101 (buku pengantar tentang agama-agama di dunia), kemana pun saya pergi, saya selalu menemukan Islam, dan saya makin tertarik dan tertarik dengan Islam," ujar Drury.

Mustafa "Steven" Samuel, Syok Saat Pertama Kali Baca Quran

Butuh waktu 25 tahun bagi Steven untuk menemukan Islam dan meyakini bahwa Islam-lah agama kebenaran, yang mampu menjawab semua pertanyaan yang selama puluhan tahun mengusik alam pikirannya. Setelah melalui pencarian panjang, pada tahun 2009, Steven mantap bersyahadat dan hidup sebagai seorang muslim dengan nama islami Mustafa Samuel. Ia lahir dalam keluarga penganut agama Kristen Ortodoks, dan mengenyam pendidikan di berbagai sekolah Kristen, mulai dari yang berbasis Katolik, Protestan, Maronit, Kristen Ortodoks dan aliran Kristen lainnya. Pengalaman ini membuat Steven memiliki cukup bekal pengetahuan agama, sekaligus membuatnya berpikir kritis terhadap ajaran Kristen yang diketahuinya. "Saya tidak pernah benar-benar menerima dogma yang diajukan pada saya. Saya adalah orang yang akan selalu menanyakan apa saja, termasuk soal agama," ujar Steven. Masa Pencarian

Khadija Margarid: Gunung Sinai Mengantarnya pada Hidayah Islam

Januari 2004, seperti hari-hari kemarin selama sepekan ini, Margarid sibuk dengan pekerjaan, menyiapkan diskusi untuk desertasi untuk gelar masternya, dan menyusun persiapan perjalanan ke Nepal untuk memuaskan keinginan menyenangkan diri sendiri dan ingin merasakan diri sebagai orang asing di negeri orang, karena sudah dua tahun ini ia tidak liburan. Margarid ingin sekali mendengar dialek bahasa-bahasa tradisional orang Nepal, mengamati kebudayaan, memahami agama mereka, kebiasaan makan, gaya rumah dan adat istiadatnya. Sudah lama Margarid tertarik dengan ajaran Budha, dan Nepal menjadi tempat yang cocok untuk memenuhi rasa keingintahuannya tentang komunitas masyarakat Budha. Sebulan sebelumnya, Margarid menghadiri upacara keagamaan di sebut kuil Budha di Lisbon. Itu dilakukannya sebagai persiapan dirinya sendir karena ia berencana untuk menetap di Nepal. Margarid ingin menyaksikan sendiri bagaimana umat Budha menuunaikan ibadahnya dipimpin langsung oleh tokoh spiritual agama Budha, Dal…

"Karena Buat Saya, Islam adalah Agama yang Sangat Logis"

Setelah menyelesaikan kuliahnya di jurusan teknik, Yusuf Burke bekerja sebagai teknisi lapangan di General Electric, salah satu perusahaan internasional yang bergerak di sektor kelistrikan. Burke sering dikirim ke berbagai negara untuk mengurus pembangunan pusat pembangkit listrik sesuai bidang pekerjaannya. Tahun 1994, Burke ditugaskan ke Indonesia, negara mayoritas berpenduduk Muslim pertama yang ia kunjungi. Burke terkesan dengan keramahtamahan masyarakat Indonesia, dan di Indonesia-lah Burke tertarik mendalami agama Islam, hingga ia membulatkan tekad untuk bersyahadat pada tahun 1996. Burke sebenarnya sudah punya bekal pengetahuan tentang Islam. Ketika masih kuliah, lelaki yang dibesarkan di New York dan berasal dari keluarga penganut Katolik ini, pernah belajar tentang beragam budaya, termasuk beragam agama. Dari situlah ia memahami sedikit dasar-dasar ajaran dalam Islam. "Saya pikir, yang membawa saya pada Islam, karena Islam buat saya agama yang sangat logis. Sebagai insinyur…

Pemela Kara: "Anak Angkat yang Mengantar Saya pada Cahaya Islam"

Pamela Kara, perempuan asal Cleveland, Ohio, AS sudah menjadi seorang muslimah selama 12 tahun. Kara tidak pernah menyesali pilihannya itu, meski pada masa awal, ia harus banyak berdebat dengan imam masjid tempat ia belajar Islam. "Jika menjadi seorang muslimah adalah satu-satunya hal yang saya lakukan dalam hidup saya, maka itulah hal terbaik yang telah saya lakukan sepanjang hidup saya. Saya sama sekali tidak menyesalinya," ujar Kara mantap. Kara dibesarkan dalam keluarga penganut agama Kristen Protestan. Namun ia mengaku tipikal orang yang selalu mencari "sesuatu". "Saya tidak tahu pasti apa sebenarnya yang cari. Ketika saya dewasa dan menikah, saya bersiap-siap untuk mengangkat seorang anak dari negara lain, dari negeri muslim," tutur Kara. Ia menikah dengan seorang lelaki muslim, namun Kara tetap memeluk agama Kristen. Ini ia jalani selama 16 tahun pernikahannya. Namun saat akan mengadopsi seorang anak itulah, Kara mulai tertarik dengan agama Islam. Seb…

Amanda Gormley, "Saya Berkomitmen Berserah Diri pada Allah Swt"

Di suatu pagi sebelum matahari menampakkan cahayanya yang keperakan, Amanda Gormley berdiri di ruang tamu rumahnya. Pagi itu, untuk pertama kalinya, ia melaksanakan salat seperti yang dilakukan kaum Muslimin. "Saya mengucapkan dua kalimah syahadat, setelah melalu perjalanan spiritual yang panjang. Jalan yang saya lalui membawa saya pada Islam. Saya menerima agama ini, dan menghormati ajarannya," ungkap Gormley. Ia mengungkapkan, pertama kali mencoba salat sendiri, sejujurnya, ia merasa canggung dan tidak tahu pasti bagaimana melaksankana salat yang benar. Ia hanya mengandalkan bantuan kartu berisi petunjuk tahapan salat dan bacaannya. "Saya berdiri ke arah yang saya pikir adalah arah ke kota Makkah. Saya meletakkan tangan kanan saya di dada. Sedangkan tangan kiri memegang kartu berisi petunjuk salat dan terjemahan surat Al-Fatihah," ujar Gormley menceritakan pengalaman pertamanya salat.

"Ketika Ingin Masuk Islam, Berat Rasanya Menyampaikan pada Keluarga"

Melinda Baily pertama kali mengenal Islam setelah kakak perempuannya berkenalan dengan seorang lelaki Muslim. Keluarga Baily yang kini menetap di North Carolina adalah keluarga Kristiani, namun mereka menerima kehadiran lelaki muslim itu di tengah keluarga mereka. Awalnya, Melinda yang lahir dari perkawinan campuran ayah asal Polandia dan Ibu asal Italia ini tidak tertarik dengan Islam. Dengan latar belakang penganut agama Kristen Katolik yang cukup taat, Melinda dan keluarganya mencoba menyelidiki tentang cara pandang, tentang agama Islam dan semua hal yang terkait dengan lelaki muslim tersebut karena hubungannya dengan kakak Melinda makin serius. Akhirnya, kakak Melinda menikah dengan lelaki muslim itu. Namun kakak Melinda belum masuk Islam, dan memutuskan untuk mencari tahu lebih banyak dulu tentang Islam sebelum mereka punya anak. "Kakak saya tidak mau mengenalkan pada anak-anaknya agama yang dia sendiri tidak meyakininya. Dia ingin anak-anaknya kelak mendukung sesuatu yang dia …

"Setelah Bersyahadat, Saya Seperti Menemukan Sebuah Rumah ..."

Suatu hari, Aaron Siebert-Llera bangun tidur dengan mengenakan kaos bergambar Bintang David, dan keesokan harinya ia bangun dengan mengenakan kaos bergambar salib. Tapi akhirnya, agama yang ia pilih, bukan agama ayahnya yang Yahudi, dan bukan pula agama ibunya yang keturunan Amerika-Mexico, agama Katolik Roma. Aaron memilih memeluk Islam. "Saya seperti merasa, akhirnya menemukan sebuah rumah dimana saya bisa menempatkan semua moral saya, idealisme saya, dan bagaimana cara saya menjalani hidup," ujar Aaron. Sebelum memeluk Islam, ia keluar masuk kerja di klub-klub malam. Namun Aaron yang pernah kuliah di San Francisco State University ini selalu menghindari minum minuman beralkohol. Ketika ia memutuskan bersyahadat pada tahun 2004, banyak teman-temannya yang meninggalkannya. Kedua orang tua Aaron--meski sudah bercerai sejak putra mereka berusia 7 tahun--menganggap keislaman Aaron hanya sebagai suatu fase saja dalam kehidupan anaknya yang nantinya akan dilepaskan.

Lia Rojas, "Saya akan Mati Sebagai Seorang Muslim"

Lia Rojas sudah mempelajari Islam selama satu tahun, tapi baru enam bulan yang lalu ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan resmi menjadi seorang muslimah. Perempuan asal Dallas, Texas, AS itu melepas agama Katolik yang selama ini dianutnya dengan taat karena lebih memilih Islam. Semuanya berawal saat ia akan menjadi guru agama Katolik. Suatu hari ia harus mengajar di satu kelas dengan tema pelajaran hari itu "Mengapa Katolik?". Sebagai guru yang baru mengajar, Lia mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk tema yang akan diajarkannya di kelas. "Tentu saja kami sudah seperti melakukan persiapan 8 bulan. Saya pun benar-benar belajar, dan saya secara tak sengaja menemukan Islam, lalu mulai mencari tahu tentang Islam," kisah Lia menceritakan awal ia mengenal Islam. Ia memanfaatkan internet untuk mendapatkan informasi tentang Islam. Selanjutnya, Lia datang ke masjid dan mendapat beberapa teman muslim di masjid. Lia mengatakan, sebenarnya ia punya beberapa kenalan yang baru d…

Perjalanan Panjang Seorang Perempuan Yunani Menemukan Jalan Islam

Beragam pertanyaan muncul dalam benak Myrto, perempuan asal Athena, Yunani, beberapa menit setelah ia mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagai syarat syahnya ia menjadi seorang muslim. Myrto masuk Islam pada Agustus 2011. Itu artinya ia benar-benar masih menjadi seorang mualaf. Walau ia masuk Islam atas kesadaran dan pilihannya sendiri, Myrto tak bisa memungkiri pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalanya. Apakah syahadat ini membuat saya menjadi seorang muslim? Apa sebenarnya muslim itu? Mudahkah menjadi seorang muslim? dan apa yang akan terjadi setelah saya menjadi seorang muslim? Bagaimana jika saya menyesali pilihan saya ini? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiran Myrto, beberapa menit setelah ia bersyahadat. "Saya butuh waktu 9 tahun untuk meyakini bahwa Tuhan itu aa dan memilih agama Islam sebagai cara untuk menyembah-Nya," ungkap Myrto mengawali kisahnya memilih Islam sebagai agamanya.

Aktor Filipina: Dari Balik Jeruji Penjara, Mengenal Islam Hingga Mendirikan Madrasah

Gambar
"Masa lalu adalah adalah masalah lalu. Saya bukan 'anak kecil' lagi. Saya sekarang adalah seorang 'lelaki', julukan 'Manusia Jahat' memang terasa tidak mengenakan, tapi itu bagian dari masa lalu saya," ujar Robinhood Fernando Carino Padilla, aktor asal Filipina yang pernah menjadi idola banyak orang di era tahun '90-an lewat film-film laga yang dibintanginya. Lebih dikenal dengan nama Robin Padilla, masa lalu lelaki yang lahir dari keluarga pemeluk Kristen Protestan ini, memang kelam meski hidupnya sebagai aktor terkenal bergelimang kemewahan. Namun kemewahan dan popularitas itu yang menjerumuskannya ke dalam dunia malam yang penuh maksiat. Ia terperangkap dalam kehidupan para preman jalanan dan obat-obatan terlarang, sehingga membuat popularitasnya sempat menurun.

Clay: "Islam Begins at 40"

Ada kata pepatah "Life begins at 40". Kata pepatah ini mungkin berlaku buat Clay, karena pada usia inilah Clay mulai mengenal Islam dan selanjutnya mantap diri menjadi seorang muslim. Buat Clay, pepatah itu menjadi "Islam begins at 40". "Dari sekian banyak hal yang menuntun saya pada Islam, adalah saat saya berusia 40 tahun dan saya berpikir bahwa separuh hidup saya sudah terlewati. Saya sudah saatnya mendapatkan 'asuransi' kehidupan yang lebih baik !" ujar Clay mengawali ceritanya saat memulai untuk mengenal Islam. Menurut Clay, saat usianya 20-an tahun, ia menjadi penganut Kristen Evangelis yang sangat taat, bahkan ia ikut menjalankan misi penyebaran agama itu. Tapi kemudian kehilangan minat pada agama itu. Di usia 30-an tahun, Clay kembali mencari-cari agama lain yang berbeda untuk ia pelajari. Hingga Clay berusia 40 tahun, tiba-tiba terlintas dalam pikirannya 'Hei, saya tidak tahu menahu tentang Islam, kecuali apa yang mereka katakan pada say…

Pemuka Gereja Ortodoks Rusia itu Akhirnya Memilih Menjadi Seorang Muslim

Dr. Viacheslav Polosin adalah seorang pater yang masuk dalam jajaran pejabat tinggi di Gereja Ortodoks Rusia. Pria kelahiran Moskow, 26 Juni 1956 mulai bekerja untuk Gereja Ortodoks pada tahun 1980 sebaga seorang "Reader" (orang yang bertanggung jawab untuk membacakan kutipan-kutipan kitab suci dalam peribadatan). Polosin adalah lulusan Universitas Moskow, Fakultas Filsafat, jurusan sosiologi, tahun 1978. Ia kemudian belajar teologi di sebuah seminari di Moskow. Setelah lulus dari seminari tahun 1983, Polosin ditunjuk sebagai diaken (mengerjakan tugas-tugas pelayananan gereja), lalu diangkat menjadi pater. Polosin bertugas menjadi pater di sejumlah paroki di kawasan Asia Tengah sampai tahun 1985. Ia pernah menjadi kepala gereja di kota Dushanbe, tapi kemudian dideportasi dari wilayah itu oleh otorita pemerintahan Soviet atas tuduhan membangkang pemerintahan komunis Soviet. Polosin lalu bekerja sebagai penerjemah paruh waktu di departemen penerbitan Kantor Keuskupan di Moskow.

"Orangtua Membebaskan Saya Memilih, dan Saya Memilih Islam"

Leila Ahmad adalah anak hasil dari perkawinan antar bangsa. Ibu Leila dari Australi, sedangkan ayahnya asal Pakistan. Tapi keluarga Leila bukan keluarga yang religius dan memberikan kebebasan pada Leila dalam urusan agama. "Orangtua membiarkan saya untuk memilih. Jadi, saya punya kesempatan untuk memahami Islam dengan sebenar-benarnya untuk diri saya sendiri. Tidak ada orang yang memaksa saya dalam hal apapun," ujar Leila yang tinggal di Cannes, di Australia. Leila bahkan tidak tahu kalau ayahnya seorang muslim. Ia hanya melihat ayahnya pergi ke suatu tempat setiap hari Jumat. Leila baru setelah bertanya pada ibunya, kalau ayahnya pergi untuk salat Jumat. Leila lalu bertanya soal salat Jumat pada ayahnya. Dari penjelasan sang ayah, Leila tahu apa itu salat Jumat, apa tujuannya, bahwa salat Jumat itu bagian dari salat lima waktu dan dilaksanakan pada waktu salat Zuhur. Saat bertanya apakah Leila boleh ikut saat ayahnya pergi salat Jumat. Ia mendapatkan jawaban "ya, boleh.&qu…

Alicia Brown: "Dalam Islam Kutemui Makna Hidup"

Perceraian kedua orangtua pada saat usia Alicia Brown masih 10 tahun, membuat kehidupannya menjadi kacau balau. Ia tumbuh menjadi anak yang liar dan menjalani kehidupan yang serba bebas, senang melakukan hal-hal yang merusak dan menyakiti dirinya sendiri. "Keluarga kami menganut agama Kristen Baptis, tapi kami bukan keluarga yang sangat religius. Kami tidak rutin pergi ke gereja," ungkap Alicia mengawali cerita perjalanannya menjadi seorang mualaf. Ketika orangtuanya bercerai, Alicia tinggal bersama ayahnya yang suka berlaku kasar padanya dan seorang adik lelakinya. "Tapi pada adik bungsu saya, ayah tidak terlalu kasar. Ayah berlaku kasar pada saya, mungkin karena saya saya membuatnya teringat pada ibu saya," ujar Alicia. Pada saat usianya 16 tahun, Alicia tinggal bersama kakek-neneknya. Di usia remaja itu, Alicia menjalani kehidupan yang kacau. Ia membenci dirinya sendiri dan segala sesuatu di sekelilingnya. Ia merasa selalu ingin melakukan apa saja yang bisa ia laku…

Kim: Islam Mengisi Kekosongan Jiwanya

Sebut saja namanya Kim. Ia dibesarkan dalam keluarga yang membenci agama, terutama agama Katolik. Kim masih ingat cerita ibunya bahwa ketika ibunya masih usia anak-anak, ada tradisi memberi penghormatan dengan membungkukan badan jika ada seorang pendeta yang lewat. Tapi kedua orangtua ibunya--kakek nenek Kim--tidak pernah mau melakukan itu jika ada pendeta yang lewat di dekat mereka. "Karena mereka tidak mau membungkuk pada siapa pun," ujar Kim menirukan perkataan ibunya. Namun ibu Kim selalu tertarik dengan agama lain, khususnya agama Islam. Meski menurut Kim, ketertarikan ibunya bukan karena ia percaya pada Tuhan, tapi karena ia sedang menghabiskan waktu luangnya dengan komunitas Muslim asal Maroko. "Ibu tidak percaya dengan apapun. Ia hanya senang melibatkan diri dalam kegiatan sosial bersama komunitas asal Maroko. Mereka melakukan kegiatan untuk kalangan remajanya, mengelola masjid baru, dan sebagainya," tutur perempuan asal Inggris itu. "Ibu saya sangat menci…

Osman Andrew Young, Si Petualang yang Akhirnya Jadi Seniman Kaligrafi

Jiwa petualang membawa Osman Andrew Young berkelana untuk mengeksplorasi tempat-tempat eksotis di berbagai belahan dunia, bertemu dengan beragam orang termasuk mereka yang menurut Osman sebagai "orang-orang terbaik". Bagi Osman, agama Islam bukan hal yang asing karena ia pernah belajar sejarah Arab di Universitas St. Andrew, Skotlandia. Perjalanannya ke berbagai tempat di dunia, bukan hanya mengenalkannya lebih jauh pada Islam tapi juga mengenalkannya pada seni kaligrafi yang ia tekuni hingga sekarang. Pada usia 18 tahun, Osman sudah melakukan perjalanan darat menyusuri Afrika Utara. Ia mengunjungi Tunisia, Aljazair dan Maroko. Tanpa bekal bahasa Arab yang baik, tanpa bekal uang dan tanpa tahu apa yang akan dilakukannya, Osman selalu bertemu dengan orang-orang yang membantunya, dan kebaikan mereka membuat hatinya tersentuh, sehingga kadang ia tinggal sampai berhari-hari di suatu tempat. "Suatu ketika, di sebuah desa di pedalaman, beberapa anak kecil yang selama berhari-har…