Salah satu pelajaran yang masih diingat saat ngaji di Mushola Asy-Syifa dengan A Toto sebagai gurunya adalah, “Kirimi fatihah untuk keluarga yang telah meninggal. Jika tidak bisa hadhoroh menggunakan bahasa Arab, pake bahasa Sunda saja. Ya Allah, kirim pahala surat al-fatihah ini kepada almarhum mbah-mbah saya.”
Saat itu saya masih duduk sebagai siswa kelas 2 MTsN Sindangsari.
Ketika mendengar pengajaran dari A Toto itu, saya mencoba menirukan.
Awal-awalnya cukup menggunakan bahasa Sunda.
Karena saya belum mengetahui nama mbah-mbah saya waktu itu,
langsung saya tanyakan ke ibu dan ke bapak. Dapatlah 4 nama, Bapak Enco Kasa,
Ibu Emoh Salmah, Kiai Ending Zahidi, dan Ibu Encum. Dua yang awal adalah orang
tua dari bapak saya, dan dua terakhir adalah orang tua dari ibu saya.
Dari sejak kelas 2 MTs inilah saya rutin mengirimkan fatihah kepada 4 orang karuhun saya, hampir selama 13 tahun. Biasanya saya kirim fatihah sebelum makan. Jadi ketika saya hendak makan, pasti saya berdoa nya agak lama. Itu selain berdoa makan, tapi saya tambahkan hadhoroh bagi beberapa orang.















