Pembaca bisa berdiskusi dengan Idik Saeful Bahri melalui email : idikms@gmail.com, idik.saeful.b@mail.ugm.ac.id, atau idikms@mahkamahagung.go.id
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Agustus 2024

Nestapa

 Arus waktu yang membulat setiap hari

Pagi menyapa disaat yang kurang tepat

Berjalan, meronta, dan merintih

Datang menjelma bak hembusan awan pekat

Naluri terdalam menghela nafas panjang

Bayang-bayang ketakutan tiba menghampiri

Aku tau

Duniaku sedang tidak baik-baik saja

 

~~~~~~~~~~~~~~~

Ditulis oleh : Idik Saeful Bahri

29 April 2024

(idikms@gmail.com)

~~~~~~~~~~~~~~~

 

Abdi Semu

 Andai memang berhampiran

Maka dekatlah

Andai memang cukup renggang

Tak perlu risau dan merana

Toh pada akhirnya bisa kembali jua

 

Saat ucapan sumpah tercipta

Disitulah tergadai seluruh mimpi dan cita

Bisa terlempar hingga ujung negara

Bisa pula terhempas hingga daerah-daerah

Pahit memang...

Tapi apa yang mau dikata?

Pahit memang...

Tapi toh diterima pula

 

~~~~~~~~~~~~

Ditulis oleh : Idik Saeful Bahri

Tanggal : 24 Juni 2024

~~~~~~~~~~~~

 

Kamis, 12 Desember 2019

Waktu


Detik demi detik
Berlangsung
Begitu cepat
Kadang
Meruntuhkan
Harapan
Kadang
Menggembirakan
Pandangan

Duduk mengharap...

Terjangkit


Derita hawa yang sungguh ironi
Menyebar sampai pelosok-pelosok
Mengguncang bagai gempa yang tak kenal ampun
Bergelombang menembus reruntuhan
Tak dapat berbuat
Tak dapat berkata-kata
Menciptakan suasana gelap di alam raya
Terciptanya neraka hawiyah
Panas bukan kepalang

Terdiam dalam Diam

Terpaku menatap layar
Terpukau dengan indahnya sorotan cahaya
Tik tak tik tuk suara tekanan
Dalam diri ku mengkhayal
Dalam pikiran ku meraba
Keheningan ini
Membuat semuanya terasa susah
Terasa tak berjalan
Keluarlah dari lembah tersebut
Bangun gunung dan bentangkan lautan
Susah tiada tara

Siapakah Dia?



================
Ditulis oleh : idikms

20 April 2011

Sial



Berjalan di lurusnya aturan
Menunggu hasil di ujung garis
Menerawang manik-manik keindahan
Terus berusaha
Sampai goresan darah tertumpah
Terus berjalan
Walau singa menghadang
Hanya saja
Tentu
Kehendak Tuhan di atas segalanya
Terjungkil dan terperangkap kebinasaan
Dimana disitulah
Kehancuran dari kesombongan

Shubuh

Dinginnya angin menembus raga
Dalam tatanan kekuatan antara iya dan tidak
Bunyi alarm menyala-nyala di dalam telinga
Sejauh itu aku bilang tidak
Sejauh itu aku tak berbuat apa-apa
Detik berganti detik
Setiap haluan jam berbunyi bagaikan suara neraka
Tapi tiba-tiba aku terbangun juga
Oleh bisikan seseorang yang mmerayuku
Dengan syair-syair indahnya.

Sepatu Ilalang


Bersatu dalam kegembiraan
Tertawa terbahak melupakan masalah yang terjadi
Berkumpul dan melampiaskan emosi
Melampiaskan semua hal yang membelenggu
Dalam satu cita kami berbagi
Kami ekspresikan dengan bola bundar yang menemani
Di tengah hujan yang melanda
Di tengah kerangka kiamat yang mengguncang
Kami merekatkan tangan
Kami bersatu
Demi hidup indah yang dinanti

Senyum Manis


Pagi yang indah mengggugah suasana
Terbangun dalam keceriaan hati
Tak sabar rasanya ingin bertemu
Dengan permaisuri dari dunia impian

Banyak pengorbanan yang telah terbuang
Hanya untuk bertemu dengan penakluk hati
Entah mengapa...
Menyebut namanya hati ini tenang bagai berada di surga
Raasanya ingin di ukir dalam hati
Di kenang sampaai akhir hayat

Tapi...
Kebahagiaan besar datang pagi itu
Sebuah tempat yang tertata dengan sendirinya
Menjadi saksi bisu pertemuan kami

Sebuah senyuman menjadi hidangan hati
Meluluh lantakkan semua pikiran
Tak bisa berfikir, tak bisa berasa
Apakah ini rasanya cinta?

Sendiri


Masih ingatkah kau kejadian itu?
Kejadian yang benar-benar paling kubenci
Kejaadian itu membuatku sepi
Sepi tanpa kehadiranmu...
Rasa kehilangan selalu datang
Disertai kekecewaan yang sangat dalam
Entah mengapa... aku selalu mengingatmu
Ingatan kita tak bisa pergi
Semakin berlalu semakin kurasakan sepi
Aku tak sanggup hidup sendiri...
Aku benar-benar merasakan
Kalau aku merasa kehilanganmu

Secercah Harapan


Dalam keheningan rasa
Ku terdiam terpaku
Menatap suram arah barat dalam pandangan
Tapi datanglah suara getaran
Memberikan paradigma baru
Masuk dan terus masuk
Ke dalam rusuk jantung yang penuh kehitaman
Dan membuat sebuah cahaya putih
Bagi kepesimisan diri

Rabu, 11 Desember 2019

Satu


Dahaga dapat hilang dengan setetes air embun.
Mentari dapat menerangi lautan dengan cahaya surgawinya.
Derasnya hujan membuat keindahan bumi menjadi nyata.
Burung, bintang, dan bulan yang menghiasi langit terus berdoa akan kebersamaan kita.
Mereka lah saksi fana yang tau akan fakta keluhuran cinta.
Darah, nyawa dan jiwa merasakan hal yang sama akan cinta kasih.
Terpisah ruang dan waktu, terpisah jarak yang bgtu panjang, dan kondisi yang tak serupa antar dua insan.
Membuat kita lebih dewasa.
Lebih toleran akan keadaan kita.
Saling memahami dan saling menghargai,
akan mimpi pasangannya yang hebat.
Dukungan hati dan cinta adalah hal nomor 1 yang memang di butuhkan.
Satu cinta, satu rindu, satu kasih, satu motivasi, satu hati dan satu ambisi.

Rinduku Menggema


Gemerecik air melambai-lambai dalam kenangan
Menyusun tetes-tetes keindahan alamiah yang menawan
Mengagungkan khayalan nun jauh tak terhingga
Menembus kekuatan fana tiada bertepi
Merobek alam nyata
Menuju keabadian tiada akhir

Cahaya Gelap


Dikala sepi menyelimuti
Datang membawa ketakutan
Jauh dari keramaian dunia seperi biasa
Tenang tapi tak tentu arah
Perasaan ini membekas dalam diri
Menghujani setiap langkah
Menyirami setiap pemikiran yang ada
Dalam kenangan kuat menuju sebuah keabadian
Menunggu sebuah waktu
Yang akan memutar balikkan semuanya

Rembulan Hati


Cahaya bersinar menerangi diri
Membuat kalbu bergetar melumpuhkan jiwa
Pesona wajah penyejuk hati
Tak bisa terlupa hingga akhir masa
Bening matanya menusuk dada
Tak bisa dihadang walau dengan baja
Ku ingin merasakan rasanya cinta
Dengan sepenuh hati yang pernah ada
Ku rasakan hati ini telah terhipnotis
Oleh ciptaan Tuhan yang tak terhingga
Ku terus berdoa tuk meraihnya
Demi kedamaian insan yang kan tergapai
Dialah sang rembulan hati
Yang meneduhkan bumi dari terik panasnya matahari
Ku ingin masa depan hidupku ini
Ditemani sang ratu yang telah menguasai hati

Rantau


Ribuan langkah ku injakkan kaki
Membentuk jejak-jejak berbau darah
Sayatan pedang samurai menghiasi jalanan
Bergelombang membentuk riuk kehidupan
Orang besar itu
Siap hadir dari masa pahit
Orang sukses itu
Perlu rintangan nun jauh membumbung langit
Wahai kawan
Betapapun gelombang menerjang
Betapapun badai meluluh lantakkan bumi
Betapapun topan menghembuskan kehidupan
Ingatlah akan kehadiran namamu
Dalam sejarah hebat masa depan
Selamat datang pengabdian

Pujian Terindah


Awali gerak dengan membaca Bismillah
Mencerminkan seseorang sang pembawa risalah
Hamdalah menjadi sebuah penutup
Untuk sebuah kebahagiaan yang terlewati
Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar
Bergema bagi insan yang mengagungkanNya
Sebuah kalimat yang indah untuk mensucikan hati
Subhaanallah...
Rasa takjub akan ciptaan Tuhan
Menggetarkan jiwa dari apa yang dilihatnya
Sungguh mempesona
Astaghfirullahal’adzim...
Penyesalan untuk dosa yang telah berlalu
Taubatan nasuha menjadi jalan utama
Tuk meraih kesucian diri dihadapanNya
Laa ilaa ha illallah...
Laa ilaa ha illallah...
Laa ilaa ha illallah...
Pujian terindah dalam semua rangkaian
Pengagungan yang tinggi bagi sang pencipta
Tiada Tuhan selain Engkau
Ya Allah yang merajai semua alam

Prinsip


Dulu kala di saat semuanya masih sama
Terlintas dipikiran untuk membentuk sesuatu
Sesuatu hal yang besar
Melampaui batas-batas impian
Kemudian beranjak
Berbedalah semua hal yang sudah dirancang
Akibat usia
Akibat olah otak
Semuanya berganti
Dan terus berganti
Setiap pergantian waktu
Dan tempat

Bangsat atau Mati?


Saat kutuliskan ini dengan tinta kelabu
Aku sudah pesimis akan nasib negeri ini
Negeri yang membuat aku hidup berpuluh tahun
Tapi membuat rakyatnya merana
Bukan..........
Sekali lagi bukan..........
Bukan negerinya yang salah
Itu fitnah
Itu tuduhan yang keji
Negeri ini suci
Negeri ini perkasa
Bangsat-bangsat itulah yang anjing
Mereka menenggelamkan bumi ini
Layaknya atlantis agung yang hilang entah kemana
Merah putih ini akan lenyap?
Kunyuk, aku tidak akan biarkan hal itu
Seandainya saja aku punya kuasa
Mereka akan aku bunuh
Aku masukkan mereka ke dalam neraka
Selama-lamanya, abadi nan kekal
Tapi sungguh
Aku tak bisa berbuat apa-apa
Bahkan di kala partai bersuara pun
Aku masih ragu
Antara memilih bajingan
Atau rela mati demi tanah pertiwi